Showing posts with label Sibolga Nauli. Show all posts
Showing posts with label Sibolga Nauli. Show all posts

06 December 2011

Pemko Didesak Ambil Alih Lahan Pelabuhan Lama

Kota Sibolga mendesak pemerintah daerah setempat untuk mengambil alih lahan pelabuhan lama yang disewakan kepada pihak ketiga yakni, PT Mujur Timber Group yang pengelolaannya oleh Hotel Poncan Marine Sibolga.

Sekretaris LSM Perkasa Sibolga-Tapteng, Binsar Simatupang mengaku miris dan prihatin melihat kawasan (lahan) tersebut ditelantarkan. Sementara Pemko Sibolga sangat membutuhkan lahan untuk pelaksanaan sejumlah program pembangunan sekaligus dalam rangka peningkatan Pen dapatan Asli Daerah (PAD). “Pemko dan DPRD dapat menggelar rapat untuk membahas rencana pengambil alihan, atau melakukan peninjauan ulang kembali nota kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) yang pernah diteken,” kata Binsar, Jumat (2/12) di Sibolga.

Mantan Anggota DPRD Sibolga periode 1999-2004 itu mengaku turut mengetahui pembuatan MoU tersebut. Karena itu, Binsar berpendapat, penandantanganan MoU sewa-menyewa lahan antara Pemko Sibolga dengan Manajemen Hotel Poncan Marine bukanlah paku mati yang isinya tidak dapat ditinjau ulang kembali.

Dijabarkannya, dalam surat perjanjian itu sendiri pun tertuang bahwa kawasan tersebut harus dapat ditata. Namun kenyataannya, lahan tersebut ditelantarkan begitu saja. “Seperti kita lihat, lahan pelabuhan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi itu sama sekali tidak dikelola atau ditata dengan baik. Bahkan warga pun sulit memasuki areal tersebut meskipun tidak ada apa-apa di sana. Ironisnya, jangankan warga, pihak pemerintah daerah setempat juga sulit masuk ke dalam lokasi itu untuk melaksanakan beragam acara atau kegiatan,” tukasnya.

Senada dengan itu, Aktivis LSM Kupas Tumpas Kota Sibolga-Tapteng Makmur Pakpahan juga berharap Walikota Sibolga HM Syarfi Hutauruk bersama DPRD segera mengambil alih lahan tersebut. Dia juga meminta pihak penegak hukum meneruskan pemeriksaan terkait sewa menyewa lahan ini. “Kita ketahui, sekaitan dalam kasus sewa menyewa lahan pelabuhan tersebut, pernah muncul sebuah permasalahan bahkan pengaduannya sudah berada di Kejaksaan Tinggi Sumut (Kejatisu). Tapi sampai sekian tahun, kita tidak pernah tahu sudah seperti apa hasilnya,” imbuh Makmur.

Maka itu, Makmur berharap, Kejatisu untuk membuka dan meneruskan kembali kasus sewa menyewa tanah antara Pemko Sibolga dengan pihak Manajemen Hotel Poncan Marine tersebut, sehingga memeroleh pelurusan. Soalnya, tanah itu sendiripun merupakan tanah hibah dari PT Pelindo ke Pemko Sibolga.

Anggota DPRD Kota Sibolga Binner Siahaan menyatakan dukungan upaya pengambilalihan lahan pelabuhan yang disewakan ke pihak III yakni, Manajemen Poncan Marine. Sebab, kata Binner, dalam MoU yang telah ditandatangani, seyogianya pengelolaan lahan diberikan selama 25 tahun. “Namun, keberadaan lahan tersebut justru sangat tidak mendukung program pemerintah daerah yang saat ini sangat membutuhkan lahan untuk melaksanakan program pembangunan. Maka memang perlu diambilalih, agar Pemko bisa mengelola lahan tersebut sebagai kawasan pariwisata,” kata Binner.


Sumber:http://www.metrosiantar.com

DIC Juara Turnamen Futsal Wali Kota Sibolga Cup 2011

Syarfi: Tingkatkan Even Futsal
SIBOLGA- Wali Kota Sibolga, Drs HM Syarfi Hutauruk melihat bahwa minat masyarakat Sibolga sangat tinggi pada cabang olahraga futsal. Karena itu Syarfi sendiri bertekad akan menggelar even turnamen futsal pada HUT Kota Sibolga April 2012 mendatang.

“Ini sangat luar biasa, saya melihat antusiasme masyarakat untuk olehraga futsal di Sibolga. Itu terbukti dari banyaknya tim yang berlaga di Turnamen Futsal Walikota Sibolga Cup 2011 ini, baik itu dari kategori umum maupun instansi pemerintah,” tukas Syarfi saat menutup Turnamen Futsal Walikota Sibolga Cup 2011, Jumat (2/12) di GOR Aek Parombunan, Sibolga.

Syarfi juga berharap agar Pengcab PSSI Sibolga dibawah kepemimpinan Marudut Situmorang agar terus merespon keinginan tim-tim futsal yang ada untuk menggelar even. “Rrencananya nanti untuk menyemarakkan HUT Kota Sibolga tahun 2012, kita akan menggelar even yang lebih besar lagi, hadiahnya bukan lagi rupiah, tapi berbentuk dollar. Maka itu saya harap peran aktif Pengcab PSSI dalam menghidupkan terus futsal ini,” kata Syarfi.

Sebelumnya, ketua panitia turnamen, Arpansyah Simatupang melaporkan bahwa turnamen berjalan dengan baik berkat dukungan berbagai pihak yang memberi perhatian, khususnya kepada Walikota Sibolga dan Pengcab PSSI Sibolga.

Selain itu, Arfansyah mengingatkan, bahwa panitia memiliki catatan tersendiri soal tingkat sportifitas tim-tim yang bertanding selama turnamen berlangsung. Dimana, bagi tim-tim yang kurang sportif akan dipertimbangkan keikutsertaannya di turnamen tahun depan. “Ini bukan sanksi atau hukuman, tapi sebagai peringatan atau pun imbauan agar tim-tim yang mengikuti setiap turnamen agar senatiasa menjunjung tinggi nilai-nilai sportifitas,” jelasnya.

Dilaporkannya, ada 35 tim futsal berlaga di Turnamen Futsal Walikota Sibolga Cup 2011. 24 tim diantaranya dalam kategori umum dan 11 tim lagi kategori U-33 keatas dan instansi. Turnamen akan berlangusng selama 9 hari sejak tanggal 22-30 November 2011 mendatang, di Lapangan futsal  GOR Parombunan, Sibolga.
Keluar sebagai Juara I katergori Umum sekaligus berhak atas Tropy Bergilir Walikota Sibolga Cup 2011 yakni Tim DIC (Datuk Hitam Club). Disusul juara II Fabulous FC, juara III City FC, dan juara IV diraih oleh Pemko Sibolga (OY FC). Sebagai pemain terbaik diraih oleh Dede Lase dari Fabulous FC, untuk top score diraih oleh Mifta dari City FC dengan cetakan 48 gol. Sedangkan pengharagaan untuk tim fairplay diberikan kepada Dinasti Yamaha FC.

Sementara di kategori U-33 keatas (instansi), keluar sebagai juara I yakni Navigasi Sibolga FC, disusul juara II UD Ilham, dan juara III Pemko Sibolga (OY FC), di posisi juara IV PT PLN Sibolga FC. Sebagai pemain terbaik dikatergori ini diberikan kepada Ricky Silalahi dari Pemko Sibolga (OY FC). Dan untuk top score diraih oleh Arfansyah Simatupang juga dari Pemko Sibolga (OY FC) dengan cetakan 31 gol. Sedangkan pengharagaan untuk tim fairplay diberikan kepada Lanal Sibolga FC. Kepada pemain terbaik dan top score diberikan uang pembinaan masing-masing sebesar Rp500 ribu, sedangkan bagi tim fairplay berhak menerima uang penghargaan sebesar Rp750 ribu. Sementara untuk juara I berhak menerima uang pembinaan sebesar Rp5 juta, juara II Rp3 juta, juara III sebesar Rp1,5 juta dan juara IV Sebesar Rp750 ribu.



Sumber:  http://www.metrosiantar.com

Warga Korban Longsor Mengungsi

SIBOLGA-Warga korban longsor pada Rabu (30/11) malam masih mengungsi ke rumah tetangga dan kerabat mereka masing-masing. Selain karena kondisi rumah yang rusak, warga juga khawatir akan longsor susulan. Apalagi curah hujan masih cukup tinggi.

“Kami belum berani. Rumah pun belum lagi diperbaiki, apalagi dindingnya sudah pada retak-retak. Sementara ini masih tidur di rumah tetangga atau saudara,” tutur Rosmawati dan Rospita Tampubolon, dua dari 5 keluarga korban longsor di Gang Ampera, Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, Jumat (2/12). Tiga korban lainnya di lokasi itu yakni Syarif Nasution, Sucipto, dan Kairan Tanjung.
Amatan METRO di lokasi, tanah longsoran yang nyaris menimbun rumah warga tersebut belum juga dibersihkan. Sementara barang-barang rumah tangga milik para korban masih terletak di teras rumah tetangga korban.

Warga juga mengaku bahwa sejak kemarin, petugas PMI Sibolga maupun dari Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam Sibolga tidak ada terjun ke lokasi. Padahal mereka sangat berharap petugas PMI dan Satkorlak terjun ke lokasi untuk membantu warga bergotongroyong membersihkan longsoran ataupun mengikis perbukitan yang masih berpeluang longsor.

“Enggak ada, sejak kemarin pun mana ada petugas PMI atau Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam yang datang. Malah warga sini yang gotongroyong semalam itu,” tukas warga sembari meminta Camat maupun Lurah setempat mengajukan permohonan agar bisa dilakukan gotongroyong untuk membersihkan longsoran ataupun mengikis perbukitan yang masih berpeluang longsor.

Hal serupa juga terlihat di lokasi longsor di Jalan Melur (atas), Kelurahan Angin Nauli, Sibolga Utara. Hanya warga setempat yang terlihat bergotongroyong membersihkan longsoran yang menghantam rumah Jisron Silaban dan tetangganya Rijal Sinaga. Warga juga terlihat berupaya mengikis lereng perbukitan yang masih berpeluang longsor.

“Yang gotongroyong ini semua warga sekitar sini. Dari kejadian semalam pun enggak ada petugas dari PMI atau Satkorlak yang datang,” tukas Jisron Silaban yang mengaku bahwa ia dan keluarganya masih mengungsi ke rumah kerabatnya menunggu rumahnya yang rusak tersebut selesai dibangun kembali.

Terpisah, Lurah Pancuran Bambu, Dicky Syahputra Lubis mengakui bahwa sejauh ini Petugas PMI Sibolga maupun Satkorlak Penanggulangan Bencana Alam Sibolga memang belum turun. Namun demikian ia akan mengkoordinasikannya kembali perihal pemintaan para korban tersebut.

“Saya akan coba koordinasikan selanjutnya. Tapi untuk pengikisan lereng bukit perlu analisa yang lebih akurat. Jangan nanti karena saat pengikisan malah terjadi longsor, akhirnya jatuh korban lagi. Karena tanah perbukitan itu masih labil. Tapi saya imbau agar warga tetap waspada,” ujar Dicky.

Seperti dikabarkan sebelumnya, sebanyak 9 unit rumah warga di lokasi berbeda rusak dihantam tanah longsor yang terjadi pada Rabu (30/11) malam dari pukul 19.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB.

Longsor sendiri dipicu hujan lebat berkepanjangan yang mengguyur kawasan Sibolga pada malam itu. Tidak ada korban jiwa maupun luka, namun kerugian material ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

Rumah yang diterjang longsor diantaranya, milik Jisron Silaban dan tetangganya Rijal Sinaga warga Jalan Melur (atas), Kelurahan Angin Nauli, Sibolga Utara. Kemudian deretan rumah kontrakan yang didiami Syarif Nasution, Rosmawati, Sucipto, Kairan Tanjung, Edi Aswan/Rospita Tampubolon di Gang Ampera, Jalan SM Raja, Kelurahan Pancuran Bambu, Sibolga Sambas.

Di lokasi berbeda, longsor juga menerjang rumah Maruli Pardamean Simbolon Gang Tirta Nauli, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan. Kemudian rumah Tawada Hutabarat yang berada di bawah perbukitan Retaining Wall Kawasan Olahraga Terpadu Sibolga, Kelurahan Aek Parombunan, Sibolga Selatan.

Rumah yang mengalami rusak parah diantaranya rumah Jisron Silaban, rumah Maruli Pardamean Simbolon, serta deretan rumah kontrakan yang didiami Syarif Nasution, Rosmawati, Sucipto, Kairan Tanjung, Edi Aswan/Rospita Tampubolon.

Di lokasi lain, tercatat 3 rumah warga yang nyaris terhantam longsor, diantaranya rumah Bahri Harahap di Jalan Cendrawasih No.97, Kelurahan Pancuran Bambu, Sibolga Sambas, serta rumah Sujono dan Ani Koto (penjual lontong) di Gang Scorpio, Kelurahan Pancuran Gerobak, Sibolga Kota.

Pemko Sibolga melalui Dinas Sosial dan Tenaga Kerja dan pihak Kecamatan dan Kelurahan setempat telah menyalurkan bantuan sembako kepada para korban.
Enam Desa di Nisel
Ikut Terisolasi
Banjir dan tanah longsor di Desa Baruje, Kecamatan Mazo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Rabu (30/12), menyebabkan sedikitnya enam desa di sekitarnya ikut terisolasi.

“Akses ke titik lokasi longsor di Desa Baruje dan sekitar enam desa lain di Kecamatan Mazo saat ini tidak bisa dilalui kendaraan bermotor,” kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Nias Selatan Henny Kurniawan Duha , Jumat (2/12).

Beberapa desa lain di Kecamatan Mazo yang terancam terisolasi itu di antaranya Desa Tano Niko’o, Tetegawa’ai EhomoUlumazo dan Desa Tetegawa’a.

Hubungan darat antara Kecamatan Lahusa dengan Kecamatan Mazo saat ini terputus akibat jembatan di Sungai Susua ambruk diterjang banjir Kamis (1/12).

Selain itu, kondisi sebagian badan jalan mulai dari bekas jembatan tersebut ke lokasi bencana di Desa Baruje hingga kini masih tertutup tanah longsor.
“Untuk menjangkau desa yang terkena tanah longsor hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sekitar tujuh kilometer,” ujarnya.

Akibat akses darat ke lokasi bencana terputus, lanjut dia, sejumlah paket bantuan pangan dan obat-obatan hingga kini masih belum bisa seluruhnya dikirim ke lokasi bencana.

Namun di beberapa titik lokasi bencana, menurut dia, sejak dua hari lalu sudah ada sejumlah personel dari TNI, Polri, dan tim dari BPBD Nias Selatan yang melakukan pencarian dan evakuasi terhadap korban tanah longsor yang mengakibat lima warga Desa Baruje meninggal dunia.

“Di lokasi bencana saat ini juga sudah ada Posko darurat yang berfungsi untuk membantu korban yang cedera,” ujarnya.

Beberapa korban yang mengalami luka serius telah ditangani di Puskesmas Mazo dan lima orang di antaranya telah dirujuk ke rumah sakit umum di Teluk Dalam, Ibu kota Kabupaten Nias Selatan.
“Kami akan terus mengupayakan sejumlah paket bantuan untuk korban tanah longsor secepatnya tiba di lokasi bencana,” ujarnya.

Dia membenarkan, curah hujan yang relatif tinggi di Kecamatan Mazo dan sekitarnya selama beberapa hari terakhir turut menghambat proses penanganan bencana alam di kabupaten yang terdiri dari belasan pulau di sebelah barat Provinsi Sumatera Utara itu Korban Longsor 5 Orang

Pemerintah Kabupaten Nias Selatan meluruskan kabar yang sempat beredar mengenai jumlah korban longsor di Desa Baruze Kecamatan Mazo, Kabupaten Nias Selatan. Yang benar, jumlah korban tewas 5 orang, 1 luka berat, dan luka ringan 7 orang. Adapun jumlah rumah rusak berat satu dan rusak ringan 30 rumah.

Sebelumnya, tersiar kabar berdasarkan penjelasan Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi bahwa terdapat 4 korban tewas, 30 orang tertimbun longsor, 37 rumah rusak tertimbun longsor, 25 sepeda motor tertimbun longsor, dan 4 mobil tertimbun longsor. “Jumlah tadi malam itu baru sebatas perkiraan. Dari pagi hingga malam ini, warga yang dilaporkan hilang tertimbun itu ternyata masih hidup,” kata Idealisman di Teluk.

Korban tewas tersebut adalah Masrida Hulu (16), Niat Hati Hulu (16), Novermawati Sadawa (16), Merida Hulu (16), dan Ardianto Hulu (23). Keempat korban pertama tewas tertimbun longsor, sementara korban terakhir tewas terseret arus sungai.
Semua korban telah ditemukan dan diambil keluarganya. Korban yang terluka juga telah dibawa ke rumah sakit.

Idealisman menambahkan, saat ini kondisi Desa Baruze masih terisolasi karena jembatan menuju lokasi longsor terputus. Karena itu, warga diangkut menggunakan perahu karet.
Korban Banjir Ada yang Belum Ditemukan

Ardian Hulu (23), korban yang terseret banjir di daerah aliran Sungai Susua, Kecamatan Mazo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Kamis (1/12), hingga Jumat siang masih belum ditemukan.

“Korban hingga siang ini masih belum ditemukan. Upaya pencarian sejak pukul 08.00 WIB tadi kembali dilanjutkan,” kata pimpinan regu Search and Rescue (SAR) Kabupeten Nias Arotama Telaumbanua di Medan, Jumat (2/12).  Disebutkannya, Ardian Hulu diduga kuat hanyut saat jembatan di Sungai Susua di Desa Siofa Banua ambruk diterjang banjir.

Peristiwa itu terjadi satu hari pascabencana tanah longsor di Desa Baruje, Kecamatan Mazo yang mengakibatkan lima orang tewas. Upaya pencarian kembali dilakukan dengan didukung satu unit perahu karet dari Badan SAR Nasional.

Para personel regu SAR bersama anggota TNI, Polri dan relawan mencari korban dengan cara menelusuri sepanjang sisi kiri dan kanan daerah aliran Sungai Susua.
Proses pencarian terhadap pria warga Kecamatan Majo yang hanyut di sungai selebar 30 meter itu relatif sulit, karena arus masih tergolong sangat deras.

“Walaupun air di Sungai Susua sudah surut, tetapi arusnya masih cukup deras,” ujar Arotama.
Sedangkan kondisi cuaca di sekitar Kecamatan Mazo menjelang siang hari relatif cerah, setelah sejak subuh sempat diguyur hujan.

Terkait dengan bencana alam tanam longsor dan banjir yang melanda Nias Selatan, pihak pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat memberlakukan status tanggap darurat mulai 30 November hingga 13 Desember 2011.

Pihak Pemkab Nias Selatan telah pula menyebarluaskan seruan kepada seluruh warga di wilayah itu agar mewaspadai ancaman banjir, tanah longsor di tengah intensitas curah hujan yang relatif tinggi sejak beberapa pekan terakhir.


Sumber: http://www.metrosiantar.com

22 October 2011

5 Wajib Pajak Peroleh Penghargaan

SIBOLGA- Sebanyak 5 wajib pajak di Kelurahan Pancuran Dewa, Kecamatan Sibolga Sambas menerima piagam penghargaan dari Wali Kota Sibolga, Drs HM Syarfi Hutauruk. Penghargaan tersebut diberikan karena ketaatan mereka dalam melunasi pajak bumi dan bangunan (PBB).
“Saya memberi apresiasi kepada para wajib pajak yang taat. Saudara-saudara adalah contoh teladan bagi para wajib pajak lainnya yang ada di Kota Sibolga,” ujar Syarfi saat menyerahkan piagam penghargaan di Malam Silaturahmi yang digelar di Jalan Mahoni Pancuran Dewa, baru-baru ini.
Adapun kelima wajib pajak yang mendapat penghargaan di antaranya, PT Pelindo Cabang Sibolga sebagai wajib pajak terhutang terbesar/BUMN dengan pajak terhitung senilai Rp117.166.656, Kianawi Anggono warga Jalan Rasak nomor 68 Lingkungan I sebagai sebagai wajib pajak terhutang terbesar dengan pajak terhitung sebesar Rp615.325.
Kemudian, Hj Sari Bangun warga Jalan Meranti nomor 15 A Lingkungan II sebagai wajib pajak terhutang tepat waktu dengan pajak terhitung sebesar Rp39.900, Yunioar Caniago warga Jalan Cendrawasih nomor 38 Lingkungan III sebagai wajib pajak terhutang tepat waktu dengan pajak terhitung sebesar Rp17.412, dan Mantri Malau (Keluarga Andre Malau Anggota DPRD Sibolga) warga Jalan Horas nomor 107 Lingkungan IV sebagai wajib pajak terhutang terbesar dengan pajak terhitung sebesar Rp619.520.
Selain itu, 2 Satgas Pemungut PBB Kelurahan Pancuran Dewa juga mendapat piagam penghargaan dari wali kota masing-masing Muhammad Ali Amran Koto dan Suryani Rizkia Nastrina. Penghargaan itu deberikan atas dedikasi keduanya dalam pengabdian memungut pajak dari para wajib pajak.
Wali kota menyampaikan bahwa pajak yang disetor masuk ke kas negara. Kemudian daerah mendapat dana bagi hasil pajak yang digunakan untuk membiayai pembangunan di daerah itu sendiri.
“Karena itu, pajak yang kita bayarkan secara tidak langsung akan kembali ke kita untuk dana pembangunan daerah,” terang Syarfi sembari mengajak segenap elemen masyarakat mendukung program pembangunan pemerintah.
 Pada kesempatan itu, Ketua TP PKK Sibolga, Ny Delmeria Syarfi Hutauruk secara spontan menyumbangkan satu unit portable wireless PA amplifier kepada kelompok pengajian ibu-ibu Kelurahan Pancuran Dewa.


Sumber: www.metrosiantar.com

16 October 2011

Pedagang di Pasar Sibolga Kemalingan

Meski sudah membayar uang keamanan, tidak menjamin barang dagangan yang ditinggal di Pasar Sibolga Nauli aman. Hal itulah yang dialami para pedagang sayur-mayur dan palawija.
“Padahal kami sudah bayar uang keamanan Rp5.000 namun barang dagangan kami selalu hilang saat disimpan di dalam gedung pasar ini. Saat kami tanya kepada petugas pasar, selalu jawaban tidak tau. Apa itu gak buat kami resah,” ujar Nur Hayati Situmeang (41) salah seorang pedagang sayur mayur dan palawija di Pasar Sibolga Nauli, Jumat (14/10).
Ibu empat anak ini mengaku kesal dengan kejadian yang dialaminya. Di mana pada hari Kamis (13/10) sekira pukul 19.00 WIB malam kemarin dirinya menyimpan barang dagangan berupa bawang merah, bawang putih, bawang penang, kemiri, jahe, kunyit dan lainnya yang dibungkus dengan karung.
“Kemudian barang dagangan itu saya taruh di bawah salah satu meja di dalam bangunan pasar ini dan ditutup dengan terpal. Kemudian sayapun pulang ke rumah. Namun saat saya ke pasar, Jumat (14/10) sekira pukul 6.30 WIB, seluruh barang dagangan yang kusimpan sudah hilang tak tau kemana rimbanya,” tukas warga Kampung Rawang, Kelurahan Huta Tonga-Tonga, Kecamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga ini.
Selain dirinya, para pedagang lainya di pasar Sibolga Nauli ini juga sudah kerap kehilangan barang dagangan, bahkan termasuk juga timbangan-timbangan milik pedagang juga sering hilang tak berbekas.
“Barang pedagang sudah kerap berhilangan saat disimpan di Gedung Pasar ini, padahal setelah kami periksa, tidak ada satupun kerusakan yang terjadi di pintu ataupun tempat lainnya yang memungkinkan pencuri bisa masuk,” ketusnya.
Salah seorang pedagang lainnya yang mengaku boru Hutagalung mengatakan, soal kehilangan barang dagangan di pasar Sibolga sudah sering terjadi dan tidak pernah diketahui siapa pelakunya.
“Dagangan itu misalnya bawang merah dan bawang putih selalu hilang, bahkan timbangan pun bisa hilang. Jadi apa gunanya kami bayar uang keamanan, kalau barang dagangan bisa hilang,” ketusnya seraya mengaku kerugian yang dialaminya mencapai jutaan rupiah karena kehilangan barang dagangan.
Ia mengatakan, jika hal itu ditanyakan kepada petugas pasar, jawaban yang didapat selalu menyebutkan, silahkan tanya kepada kepala pasar dan para petugas sama sekali tidak menggubris apa yang menjadi permasalahan yang terjadi.
“Dagangan disimpan dalam gedung yang kokoh dan katanya selalu dikunci petugas pasar. Percuma kami bayar uang keamanan, tapi nyatanya barang dagangan malah sering hilang. Pajak ini sudah gak aman lagi,” imbuhnya.
Akibat terlalu seringnya hilang barang dagangan para pedagang, mereka menduga ada permainan dalam kasus kehilangan barang dagangan ini.
“Penjaga malam ada dan pintu selalu dikunci, tapi kenapa barang bisa hilang. Kami minta pemerintah daerah untuk menertibkan oknum-oknum penjaga malam di pasar Sibolga ini, sebab kami bisa tidak makan karena sering kehilangan barang dagangan,” tandasnya.
Sementara Kepala UPT Pasar Sibolga Nauli, Backtiar Efendy Tambunan SSos saat dikonfirmasi via seluler mengaku kalau dirinya sudah mendengar laporan tentang pedagang yang kehilangan barang tersebut.
“Namun soal kehilangan barang dagangan para pedagang, itu bukan karena dilakukan oleh orang luar. Namun justru diduga terjadi dilakukan sesama pedagang sendiri,” tukasnya.
Menurutnya, setiap sore biasanya sebagian para pedagang memasukkan barang dengan cara menumpukkan begitu saja barang dagangannya di dalam dan dibungkus dalam karung dan tidak ada identitas barang itu milik siapa atau pedagang yang mana.
“Justru kami curiga sesama pedagang juga yang mengambil barang dagangan milik temannya yang lain. Hal ini terjadi, misalnya jika sudah pagi hari, ada pedagang yang datangnya cepat dan mengambil barang dagangan kawannya yang belum datang. Dan hal seperti itu sudah dua kali kami pergoki, termasuk kemarin pernah hilang empat karung barang dagangan dan ditemukan di pasar itu juga,” tuturnya.
Backtiar juga mengaku bingung dengan kehilangan barang para pedagang itu, sebab setiap malam pasar Sibolga itu selalu dikunci dan petugas jaga juga selalu rutin melakukan kontrol kalau malam harinya dan setiap pagi setiap pukul 6.00 WIB pintu Pasar Sibolga dibuka petugas.
“Bahkan saya sendiri setiap malamnya sekitar pukul 22.00 WIB selalu kontrol di lokasi Pasar Sibolga Nauli. Dan saya juga selalu memeriksa setiap pintu keluar masuk pasar Sibolga Nauli kalau malam hari,” bebernya.
Namun demikian, kata Backtiar, ke depan pihaknya akan menyarankan kepada setiap pedagang, khususnya pedagang sayur-mayur dan palawija untuk membuat kotak penyimpanan barang dagangan dan dibuat gemboknya.
“Sebab biasanya para pedagang memasukkan dagangannya kedalam kerajanjang atau goni, lalu ditutup begitu saja. Namun yang pasti, petugas jaga malam selalu rutin melakukan penjagaan di Pasar Sibolga Nauli,” tandasnya.